Showing posts with label cerita bermakna. Show all posts
Showing posts with label cerita bermakna. Show all posts

Dec 31, 2015

7 Keajaiban Rezeki (1/3)

Senang sekali akhir tahun 2015 menuju tahun 2016 berada di rumah bersama keluarga. Akhir tahun ini, topik utama yaitu, bercengkrama mengenai karier bersama Ayah. Tak lama kemudian, Ayah memberikan rekomendasi buku ini. 

Buku ini ditulis oleh Ippho Right (Read:Ippho Santosa). Saya tidak asing mendengar namanya sejak bergabung bersama CEDS UI (Centre for Entrepreneurship and Development Studies University of Indonesia) 2011 dan TDA Kampus (Tangan Di Atas Kampus) 2013. Dan, saya menyukai cara Mas Ippho menuliskan dan membeberkan berbagai cara mendatangkan rezeki. Rasanya sangat disayangkan apabila ilmu dan inspirasi yang saya terima tidak saya bagikan pada banyak orang. Maka dari itu saya mencoba meringkas dan berbagi inspirasi melalui tulisan ini. Berikut ringkasannya. 

Bagaimana rezeki bertambah, nasib berubah, dalam 99 hari, dengan otak kanan?

Buku ini akan menunjukan bagaimana mempercepat rezeki dengan dominan pendekatan otak kanan dan sentuhan-sentuhan islam.

Saya sangat suka dengan konsep lingkar pengaruh yang dimulai dari Lingkar Diri, Lingkar Keluarga, Lingkar Sesama, Lingkar Semesta, hingga Lingkar Pencipta. Apabila berjabat tangan erat dengan tiga lingkar pertama, maka dua lingkar berikutnya juga dapat digenggam. Yang terpenting bahwa segala sesuatu dimulai dari lingkar diri; dari dalam diri sendiri sebagai faktor penentunya.

Yuk, kita mulai.

1. Sidik Jari Kemenangan
Bagaimana mencapai kemenangan dengan lebih cepat tentulah berbeda satu dan lainnya. Semua cara tersebut unik seperti sidik jari yang berbeda-beda. Sekarang ambil lah selembar kertas untuk menulis. Saatnya sekarang untuk menuliskan sidik jari kemenangan yang diinginkan tanpa sungkan dan malu :) Silakan.

2. Sepasang Bidadari
Menjadi pemenang adalah hak semua orang, siapa saja. Tidak jadi soal apakah dulunya kita lemah, bodoh, minder, kuper, miskin, dari daerah terpencil, atau apa pun. Karena bagi Yang Maha Kuasa, semuanya sama, tidak ada mustahil. Apalagi disertai sepasang bidadari.

Doa VS LOA
Hukum tarik menarik (Law of Attraction = LOA). Apa yang kita pikirkan itulah yang semesta berikan. Pikiran kita lah yang menarik segala sesuatu terjadi. Thoughts become things. Segala sesuatu terjadi atas izin Yang Maha Kuasa. Doa, impian, dan harapan berlandaskan garis yang sama bahwa ingin mewujudkan sesuatu yang diinginkan. 

Saat impian kita selaras dengan impian orang-orang disekitar kita, maka impian kita menjadi lebih bersayap. Impian akan lebih melesat untuk terwujud karena ada doa dan dukungan dari sekitar. Apa pun yang lemah cenderung akan kalah oleh yang kuat, apa pun yang ragu-ragu akan kalah oleh yang yang yakin. Selama masih bisa berdoa, maka kita masih bisa mengendalikan diri kita. Artinya kita bermimpi, berangan-angan, memiliki niat untuk bergerak. Mencoba.

Setelah refleksi atas kehidupan sebelumnya, saya merasa bahwa memang penting sekali berdoa dan memiliki pikiran positif bahwa segala sesuatu bisa terjadi. Salah satunya, saat saya ingin diterima sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 2011. (lebih lanjut akan saya ceritakan). Dan sekarang, saya sudah menyandang sebagai Alumni Fakultas Psikologi UI sejak Agustus 2015 :)

Turunnya Bidadari Pertama
Apabila itu perihal duniawi, dahulukan urusan orang lain terutama orang tua. Apabila urusan akhirat, dahulukan urusan diri. Salah satu kalimat yang diucapkan oleh mentor saya. Bahwa bertebaran di muka bumi ini untuk memberikan manfaat. Yang namanya berbakti kepada orang tua tidak akan pernah berakhir dengan sia-sia. Apabila kita berhasil membuat sepasang bidadari tersenyum, pastilah Yang Maha Membalas serta merta mengulurkan tangan-Nya. Hmm, siapa sepasang bidadari itu? Iya, orang tua.

Keridhoan Yang Maha Kuasa berada pada keridhoan orang tua. Jika LOA, doa, dan impian telah dirangkai, selanjutnya lingkar keluarga. Berbakti kepada orang tua itu akan menguak langit dan memanggil rezeki. Doa orang tua dapat membuat rezeki tercurah. Saat doa orang tua selaras dengan doa kita, berarti doa kita menjadi lebih Melangit. Saat impian orang tua selaras dengan impian kita, maka impian kita menjadi lebih Bersayap. Dampak dari keselarasan impian ini untuk melipatgandakan doa dan LOA. Layaknya melaksanakan sholat berjamaah, imam dan seluruh jamaah tentu harus memiliki keselarasan niat agar sholat tersebut 27 derajat lebih powerful. Apalagi impian kita selaras dengan impian dan doa orang tua, pasangan, kerabat, dan teman-teman tentu akan lebih powerful. Ya berbekal keyakinan dan doa dari mereka semua,

Orang tua tentu memiliki doa tersendiri untuk kita. Mungkin tidak mudah untuk mengganti doa orang tua, maka yang bisa kita lakukan adalah meminta orang tua menyebutkan impian kita dalam doa mereka. Alangkah lebih baik jika diawali dengan meminta maaf ulang kepada orang tua. Karena mereka lah bidadari pertama kita. 

Banyak sekali pengalaman orang lain mengemukakan bahwa menyenangkan orang tua maka akan mendatangkan banyak rezeki. Didoakan orang tua akan mustajab menambah kadar rezeki yang diterima.

Tak heran, orang tua seringkali membanggakan kita sebagai anak. Tentu patut ditanyakan apakah kita membanggakan orang tua pula? Orang tua mendoakan kita, apakah kita juga mendoakannya? Orang tua berkorban banyak, apakah kita juga berkorban banyak untuk mereka? Orang tua berusaha membahagiakan, menafkahi, dan memenuhi kebutuhan kita, apakah kita melakukan hal itu juga kepada orang tua? Terkadang kita terlalu banyak menuntut orang tua, padahal semestinya kita juga berhak dituntut orang tua untuk melakukan hal yang sama pula. Itu lah sepasang bidadari, dengan ikhlas memberi dan mendoakan. Sebagai anak, makanya sudah selayaknya kita membanggakan, membahagiakan, dan mendoakan orang tua kita.

Turunnya Bidadari Kedua
Sedikit sulit membayangkan hal ini karena saya sendiri belum menikah. Hehhe apa hubungannya? Ya, mungkin sebagian pembaca mulai mengernyitkan dahi dan menebak bahwa bidadari kedua mungkin adalah pasangan. Ya, itu Anda benar, bidadari kedua adalah pasangan. 

Berbicara kembali mengenai keselarasan impian. Rambut boleh sama hitam, tapi impian bisa jadi beda-beda. Menyelaraskan impian memang tidak mudah. Jika mampu meyakinkan sepasang bidadari dan menyelaraskan dengan bidadari kedua, maka terbuka lebar-lebar pintu rezeki di hadapan Anda. Setiap pria yang berhasil tentu ada yang mendampinginya. Dibalik pria yang sukses, tentu ada perempuan yang tangguh. Karena bersama pasangan, kita bisa saling menguatkan, melengkapi, dan membuat segala sesuatu yang rumit menjadi lebih sederhana. Maka dari itu, saya sangat setuju bahwa temukanlah pasangan yang memiliki impian yang selaras. Maka akan selangkah lebih dekat dengan kemudahan hidup di dunia.

Mempercepat Terwujudnya Impian
Setelah menyelaraskan impian dengan sepasang bidadari dan orang terdekat, maka selanjutnya bayangkan impian itu terjadi. fake it until become it. Teruslah berpura-pura hingga itu benar-benar terjadi. Seperti pepatah China yang berbunyi, Nong jia cheng zhen, yang artinya main-main jadi sungguhan.

Menetapkan Kapan Terjadi dan Memantaskan Diri
Kita harus mampu menetapkan kapan impian itu akan terjadi dan perjelas semuanya. Lakukan ini terus berulang-ulang. Positifkan kata-kata. Lalu, batinkan kata-kata itu. Sebagai contoh, katakanlah Anda seorang kakak, yang mempunyai seorang adik yang sedang kuliah. Kalau adik Anda tidak berani menyebutkan kapan kuliahnya bakal kelar, berarti ia tidak serius dengan kuliahnya. Katakanlah Anda seorang wanita, yang mempunyai seorang teman dekat pria. Kalau teman dekat pria Anda tidak berani menyebutkan kapan ia bakal melamar, berarti ia tidak serius untuk melamar Anda. Mas Ippho menyarankan untuk GANTI SEGERA!! Hehe saya juga setuju, Mas. Kalau kita berani menyebutkan kapan kita melanjutkan S2, berarti kita ....

Dan, jangan lupa memperjelas semuanya dengan mendetail. Tentu akan beda orang yang mengatakan "Saya ingin omzet naik!" atau "Saya ingin omzet naik menjadi 50 juta" atau "Saya ingin omzet naik menjadi 50 juta mulai Februari 2016". Tentu, saya rasa para pembaca melihat bahwa pernyataan terakhir yang lebih menjelaskan semuanya. Begitu pun dengan impian dan doa, semua harus jelas apa, kapan, dimana, bagaimana, seperti apa, dan untuk apa.

Lalu, terapkan 7Y. Apa itu? yakin, yakin, yakin, yakin, yakin, yakin, dan yakin. Yakin itu akan terjadi dan memantaskan diri. Memantaskan diri di hadapan Yang Maha Menilai. Ibadah A, B, C, dan D coba ditingkatkan, dirutinkan,  dan digandakan. Seperti, kita mau mendapat jodoh lebih baik? Ya harus berdoa, memohonnya yang seperti apa, memperbaiki diri, dan tentu memantaskan diri. Bukankah Dia telah berjanji "Yang baik-baik adalah untuk yang baik-baik. Dan begitu pula sebaliknya" (QS. 24;26). Jadi, kalau mau pasangan yang lebih, yah perbaiki diri dan pantaskan diri. Dulu saya pernah menuliskan kriteria pasangan yang diharapkan dengan mendetail heheh Entah kenapa setelah mengingat hari-hari yang berlalu, ternyata apa yang saya doakan cepat atau lambat terkabul. Terkadang kita tidak menyadari bahwa Yang Maha Esa mengabulkan doa kita pada waktu yang ajaib-ajaib; ya sekarang atau tidak sekarang atau Aku punya rencana yang lebih baik untukmu. Salah satu kalimat favorit yang saya rangkai sendiri dan selalu saya gunakan, bermimpilah supaya terbangun, berharaplah supaya terus tergerak. Well, semua tidak ada yang mustahil :)

Sekali lagi memantaskan diri. Sebagai contoh lagi dari Mas Ippho. Seorang anak ingin punya sepeda, apa reaksi ayahnya?  Tentu anak harus memantaskan ilmunya yaitu, belajar bersepeda walaupun belum punya sepeda. Ingat, fake it till you become it. Pantaskan uangnya, maksudnya menabunglah, Mencoba rutinkan, walaupun tabungan selama setahun pun belum mencukupi membeli sebuah sepeda. Memang mungkin tabungan tidak cukup, akan tetapi dengan melihat kesungguhan anak belajar bersepeda dan menabung, Ayah lah yang kemudian mencukupkan. Tentu atas izin Yang Maha Kuasa

Dan, tak lupa selalu menjaga hubungan baik dengan berbagai orang di sekitar. Menyampaikan pendapat boleh, tapi tentu tetap menjaga kedamaian dan ketentraman silaturahmi. Hidup didunia berbicara mengenai hitam dan putih, sama dan berbeda.

Lalu sekarang apa yang harus dilakukan?

Gandeng dulu sepasang bidadari. Ceritakan kepada saudara-saudara Anda. Bagi yang orangtuanya telah meninggal coba temui sahabat orang tua Anda, gabungkan adab doa dan hukum LOA.


Ya sekiranya, itu dulu ya.
Ini baru dua bab dari tujuh bab yang ada. Selanjutnya, saya akan membahas pada tulisan berikutnya. Sekali lagi, saya mendapat inspirasi ini dari bukunya Mas Ippho Santosa. Dan, saya tulus dan ikhlas berbagi karena menurut saya informasi ini sangat berguna. Semoga bermanfaat yaa :) 

Dec 23, 2013

Galau Jodoh yang Wajar

Sebenarnya ini topik yang palinggggg gue hindari untuk ditulis. Karena ini terlalu sensitif untuk dibahas heheh Tapi, akhir-akhir ini makin banyak obrolan dengan teman-teman diberbagai media sosial, grup wa/line/bbm, ataupun obrolan langsung dengan teman-teman sebaya yang menggalaukan hal ini.

Hingga pada akhirnya gue kembali bertemu dengan rangkaian kalimat bijak dibawah ini yang ngebuat gue tergerak untuk posting disini. Maksud gue hanya mau berbagi pola pikir bahwa jodoh adalah cerminan dirimu. Apa yang lo dapatkan akan sesuai dengan apa yang lo lakukan. Daripada menunggu ngga jelas, menggalau ngga jelas, mengeluh ngga jelas, mending yuk sama-sama perbaiki diri. Belajar menjadi yang lebih baik lagi supaya menemukan dan mendapatkan yang lebih baik dan tepat.


Berikut rangkaian kalimat bijaknya.


AKU SEDANG BELAJAR

Wahai seseorang yang telah tertulis di lauhul mahfudz,
Imamku dan ayah dari anak-anakku, engkau yang akan bersamaku dalam perjalanan nanti…
Apakah yg sedang kau lakukan disana?

Aku percaya kau sedang memperbaiki dirimu, memantaskan dirimu tuk menjadi imam bagi tulang rusukmu dan buah hatimu kelak…

Aku percaya kau sedang menempa dirimu dalam beribu cobaan dengan menelantarkan dirimu sendiri pada medan dakwah dan problematika ummat… mencampakkan jauh egomu, membaktikan dirimu tuk ummat…

Aku percaya kau sedang mengkaji, kau sedang belajar, belajar ilmu dunia terutama ilmu akhirat, yang akan kau gunakan dalam mendidikku dan buah hati kita nanti…

Aku percaya Quran selalu ada dalam hatimu, selalu terucap dari bibirmu dan dzikir slalu melantun menemani langkah jihadmu…

Aku percaya kau sedang menundukkan pandanganmu, menjaga hatimu dan mencampakkan hawa nafsumu…

Aku percaya kau sudah merancang hidupmu, hidup kita, keluarga kita, nantinya juga untuk dakwah, untuk ummat, dan hanya kerana_Nya…

Aku percaya,kau sedang memantaskan diri dan terus memperbaiki diri disana, di belahan bumi manapun kau berada…

Aku pun begitu wahai calon imamku…

Aku sedang belajar, belajar menempa diri, menjauhkan egoku demi ummat, membaktikan diriku untuk orang lain, agar baktiku padamu pun sempurna…

Aku sedang belajar, meniti dakwahku, meniti cita-cita duniaku, meniti cita-cita akhiratku, agar kelak keluarga islami dan kluarga Qur’ani yg aku inginkan nanti dapat kubangun bersamamu… karena kau tahu? Meskipun kau imamku, ibu adalah madrasah pertama bagi mujahidah kecilnya nanti…

Aku sedang belajar menjaga diri, menjaga pandangan dan hatiku, agar ketika kau memiliki hati ini, hati ini masih utuh sempurna hanya untukmu…

Aku sedang menempa diri, untuk menjadi seorang Khadijah untukmu, yang menjadi tempatmu membagi resah… seseorang yang kau datang padanya, saat kau tak tahu lagi akan datang pada siapa… seseorang yang menguatkanmu dan menggenggam slalu tanganmu dalam perjalanan jihadmu…

Aku pun ingin menjadi ‘Aisyahmu, seorang yang membuatmu tersenyum dan kembali ceria saat penatmu mulai datang, seorang yang menyerap ilmu darimu dengan sempurna dan membenarkan apa-apa yang salah dalam lakumu, seseorang yang mencintaimu dengan cemburunya, namun kau rasakan sakitnya, saat ia tersakiti, hingga kau katakan pada yg lain “janganlah kau sakiti aku dengan cara menyakti ‘Aisyah”…

Aku ingin menjadi Fatimah, yang tak kau bagi cintamu pada yang lain... bukan kerana aku tak percaya kau tidak dapat berlaku adil, tapi kerana aku ingin mencintaimu dengan sempurna, tanpa diganggu oleh cemburuku, itu saja!

Tak kalah lagi, aku ingin menjadi seperti ibunda Hajar, yang tak gentar saat kau tinggalkan di padang pasir tandus dengan seorang bayi mungil di pelukan... tak takut akan kehilanganmu, kerana keyakinanku pada Rabbku lebih besar daripada yakinku padamu… cintaku padamu, tak akan mengalahkan cintaku pada Rabbku…

Usahaku ini tidak mudah , begitupun usahamu..kuyakin itu..
Maka tetaplah dalam jihadmu..tetaplah dalam usahamu..tetaplah dalam ikhtiarmu… aku yakin kau kuat disana, dan doakanlah agar akupun kuat disini dalam jihad dan ikhtiarku…bawalah aku dalam tiap doa dan sujudmu, kumohon… kerana doa yg dapat menolongku…

Hingga saatnya, kita bertemu dalam ikatan suci menyempurnakan separuh dien… dan kita akan melanjutkan jihad kita bersama…

Dan nanti..terimalah aku apa adanya jika aku belum bisa menjadi Khadijahmu, ‘Aisyahmu atau bahkan menjadi seperti ibunda Hajar… tapi bimbinglah aku menjadi seperti mereka… dan kita bimbing bersama mujahid muda kita nanti tuk melanjutkan perjuangan dakwah ini…

Teruntukmu yang ada disana,kuatlah..dan bersabarlah…
Bawalah aku dalam doa dan sujudmu, agar cinta kita nanti, hanya kerana-Nya…
Aamiin.

Jodoh yang baik akan datang di waktu yang tepat melalui cara yang tepat
Yuk, persiapkan saja diri untuk menemui saat itu :)

Membalas Kejahatan dengan Kejahatan

Gue nggak tahu siapa pertama kali yang menuliskan cerita dibawah ini. Tapi, seringkali gue membaca cerita ini melalui berbagai media. Terima kasih penulis, gue suka cerita yang ini. Disini hanya ingin berbagi cerita inspiratif dan bijak, semoga kita sama-sama bisa belajar menjadi diri yang lebih baik lagi. Karena belajar bisa tidak hanya melaui yang expert saja, tapi dari manapun selama itu bisa mendapatkan hikmah dan pengalaman. 

Berikut ini ceritanya.

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di sore hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan dan tidak merapikannya.


Nah ketika ular itu masuk ke sana, secara kebetulan ia merayap di atas gergaji.
Tajamnya mata gergaji menyebabkan perut ular terluka. Ular beranggapan gergaji itu menyerangnya. Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali. Serangan yang bertubi-tubi menyebabkan luka parah di bagian mulutnya.

Marah dan putus asa, ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya untuk mengalahkan musuhnya. Ia pun lalu membelit kuat gergaji itu. Belitan yang menyebabkan tubuhnya terluka amat parah.
Dan akhirnya ia pun binasa…
Di pagi hari si tukang kayu menemukan bangkai ular di sebelah gergaji kesayangannya.

Kadangkala di saat marah, kita ingin melukai orang lain. Setelah semua berlalu, kita baru menyadari bahwa yang terlukai sebenarnya adalah diri kita sendiri.
Banyaknya perkataan yang terucap dan tindakan yang dilakukan saat amarah menguasai, sebanyak itu pula kita melukai diri sendiri 

”Orang yang tak berpengalaman mendapat kebodohan, tetapi orang yang bijak bermahkotakan pengetahuan.” 

Tak ada musuh yang tak dapat di taklukkan oleh cinta.

Tak ada penyakit yang tak dapat di sembuhkan oleh kasih sayang.

Tak ada permusuhan yang tak dapat di maafkan oleh ketulusan.

Tak ada kesulitan yang tak dapat di pecahkan oleh ketekunan.

Tak ada batu keras yang tak dapat di pecahkan oleh kesabaran.

Semua itu haruslah berasal dari hati kita.

”Akhir suatu hal lebih baik daripada awalnya.
Panjang sabar lebih baik daripada tinggi hati...


Senjata terbaik membalas kejahatan adalah kebaikan

Oct 20, 2013

Belajarlah untuk Memahami Orang Lain

Okey. Hari ini gue baru saja menyelesaikan UTS mata kuliah Psikologi Abnormal. Serem amat namanya! Yeeey! Lo kira dosa apa nyeremin. Bukan itu. Intinya, Psikologi abnormal membahas apa saja yang hal yang berhubungan dengan karakteristik suatu tingkah laku dikatakan normal atau tidak normal (abnormal).

Nah, agak jauh sih nyambungnya. Tapi, hari ini gue mau berbagai bahwa gue makin menyadari, mengapa latar belakang pendidikan bisa jadi mempengaruhi sikap atau tindakan kita sehari-hari.


Ada orang yang berkata,

"Jangan emosian dong, Biasa aja kale. Emosi mulu lo...." (nada suara tinggi)

"Lo kali yang emosian, Lo kenapa marah-marah sama gue" (nada suara ketus)

"Gue ngga marah kok sama lo. Gue nggak marah" (wajah cemberut, mata membelalak)

"Kalian kenapaaaa? Jangan pada marahan dong" (suara pelan dan tersenyum)


Menurut kalian, kalimat ketiga menunjukan kongruen atau kesesuaian ngga antara kata-kata verbal dan ekspresi non-verbal nya? sinkron ngga? Nah, kalau lagi dalam posisi harus memilih percaya verbal atau non-verbal, lo pada milih yang mana?

Jawabnya, nonverbal.

Why?
Jadi, yang namanya gesture atau mimik tubuh mengungkapkan hasil ekspresi diri yang disampaikan informasi dari otak. Otak menerima sinyal dari sensor (panca indera dan kawan-kawan) untuk mengirimkan informasi ke sistem kognitif dan motorik kita. Nah, kalau kata-kata bisa dimanipulasi. Maksudnya, apa yang lo katakan di lidah bisa jadi berbeda dengan kata hati dan pikiran lo. Tapi, apa yang ditunjukan oleh nonverbal, biasanya sangat sulit untuk dimanipulasi atau bohong.

Semakin gue belajar memahami ilmu psikologi, semakin ilmu ini mempengaruhi cara pandang dan sikap gue. Terutama sekarang gue mulai suka banget dengan aliran psikologi humanistik positive psychology Martin Seligman. Apapun yang terjadi dalam proses hidup, gue berusaha  untuk melihat dari sisi positifnya. Bukan berarti gue mengabaikan sisi negatif yaa! :) Begini, lo akan mulai bertindak sesuai arah pikiran lo. Kalo pikiran lo negatif, kemungkinan susah buat tingkah laku mengarah ke positif, kecuali ada hal-hal dari luar diri lo yang mempengaruhi.

Jadi, kalo sama beberapa teman-teman yang satu paham hal ini, biasanya akan berkata


"Ayo dong! Jangan gitu.. emosi negatifnya ngga enak dilihat"

Bukan,

"Jangan emosian yaaa.."


Karena, emosi adalah hasil dari ekspresi perasaan, keyakinan, pikiran, tingkah laku. Emosi bisa positif maupun negatif. Gue mengerti maksud dari kalimat kedua ini adalah jangan menunjukan emosi negatif. Yah, hanya itu.

Sederhana emang. Cuma untuk penggunaan kalimat sehari-hari tentulah terkadang menunjukan sedikit gap antara kedua pemahaman ini.

Sebagai mahasiswa, lo harus mampu memposisikan diri dan menyesuaikan cara mengkomunikasikan pemahaman lo ke lingkungan sekitar. Lo ngga akan mampu terus-terusan memperjuangkan cara lo sendiri tanpa menyesuaikan diri dengan cara lingkungan tempat lo berada. Inget ngga konsep survival of the fittest Darwin? Nah itu dia, kita harus mampu memposisikan diri.

Belajarlah untuk Memahami Orang Lain

Oct 17, 2013

Belajar Menghadapi Masalah Bagaikan Memegang Segelas Air

Nah ini ada cerita yang menurut saya asosiasinya oke untuk terus-terus diingat ketika lagi berhadapan dengan masalah. Semoga kamu dapat deep-insight :)

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stres, Steven Covey, pakar Leadership-7 Habits, mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: seberapa berat menurut Anda segelas air ini?
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. ”Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya,” kata Covey.

”Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”
Jika kita membawa beban kita terus-menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya,” lanjut Covey. ”Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.”

"Saya ingin mengajak Anda agar kita tidak sepanjang hari terus merasa merana dan memikirkan kesulitan yang sedang kita tanggung. Cobalah meninggalkan beban kita secara periodik agar kita dapat merasa lebih segar, kuat, dan mampu membawanya lagi. Misalnya sebelum tidur tinggalkan dulu beban itu. Apa pun beban yang ada di pundak kita hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi, untuk dipikirkan juga jalan keluarnya".
Saya yakin setiap orang punya masalah hidup masing-masing. Jangan kira orang sukses dan kaya tidak punya masalah. Ya, mereka punya! Anda saja yang tidak tahu urusan pribadi mereka. Masalah kita sendiri, bagi kita begitu berat, rumit dan memusingkan, seakan tidak ada jalan keluar. Namun jika Anda mencoba melihat orang lain lain yang lebih berat masalah hidupnya, Anda akan merasa beruntung ternyata hidup Anda tidak seberat yang Anda kira selama ini. Semoga analogi segelas air ini bisa mencerahkan pusingnya pikiran Anda dalam menghadapi masalah hidup :)

Cerita ini dikutip dari salah satu teman yang juga mengutip. Boleh banget lho kamu mengutip dan berbagi cerita bermakna ini ke banyak orang. Mari bersama-sama menebarkan kebermanfaatan :)

Diam atau Bergerak

Waktu terus berlalu tapi engkau masih disana Hari terus berlalu tapi engkau masih di singgasana Lepaskan singgasana karena engkau perlu ta...