Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Feb 10, 2016

What Future For Education?


It has been a month ago since i was being enrolled with an online class about future education. I fascinated to tell about education system and implementing. And today, i am reading much more information which is everyone told about education of their countries. There are so many perspective to recognize what the best education in the future. Here’s those.

First, someone said that the best learning is not about “where” but about “what for”. I totally agree with the statement because educational function is to improve and to empower children’s skill as suitable as they need. And, actually, perharps we know the aim of objective learning is to make us knowing why we are doing something. In Indonesia, Some public schools is doing program based on nature, technology, religion, or entrepreneurship as the main program. We can choose one as necessary. This perspective means exactly to involve the aim of learning than where is to do learning.

Second, we should know about “Exchanging Ideas through Group Discussion”. Eventhough, not all students could study in group optimally because they need a private or a privilage to encourage optimally their capabilities. I feel blessed the group made me knowing more about the diversity in ideas. Through group discussion carrying on very colaborative environment made us encouraging in interaction and collaborative with others. We have to know everyone has their own learning style. There is one with studying in alone room wil be more optimally result and one with arround people or noisy conditions is not even affected him to study. So, the idea is still possibly implemented group discussion in the learning process.

Third, there is issue about homeschooling. In homeschooling research, was founded that the academic and socialization outcomes for the average home schooled child are superior to those experienced by the average public school student. In Indonesia, mostly homeschooling is effectively used someone to improve special skills. Because the education system is implementing conventional class for each public school. Conventional class is being more effective and more eficient because need low budget and less teacher availablity. Indonesia, as developing countries, more need conventional public school to encourage many students in classroom. Definitely, The output of learning process is considered to count whether as effective system or not.

Fourth, It would be many courses to combine “Personal Education and Technology”.  So far, online learning is one of many effective learning to complete what we want to know. Technology is going to make personalized learning so much easier. Tools like Edx Course for example let students work at their own pace and explore topics they are interested in. I think in the future teachers will lecture much less but help students more set goals for themselves and introduce them to tools that they can use to design their own learning.


Finally, you can agrre or disagree with these some opinion. In my opinion, education have to focus on “learning to be”. According to UNESCO, Learning to be: to provide self analytical and social skills to enable individuals to develop to their fullest potential psycho-socially, affectively as well as physically, for a all-round complete person. Someone said that for Sub Sahara Africa, the are struggling with ethical thinking, performance character, and accountability as progressive purposes of learning to be. It has been issued in Indonesia for long times ago. Diversity in education is no matter to still make being the only one, Indonesia. Learning to be and learning to live together are key areas to promote global citizenship. I guess, commonly accepted values can be taught to foster cohesive societies consisting of individuals who are happy in their situation in life. In other side, it simply said learning to be is try to feel satisfied with your own life, being conscious that you are in contact with all human beings in the world and need to think locally, globally, individually, and collectivelly.



Learning is to find meaning of your own existance

Aug 21, 2013

Terurai Cerita Dibalik Kuliah Kerja Nyata Tematik Universitas Indonesia 2013

Satu bulan lebih saya hidup dan beraktivitas setiap harinya bersama orang-orang yang membawa satu visi, yaitu berharap apa yang dilakukan memberikan perubahan positif di masa depan. Bisa dikatakan bahwa kehidupan K2NT lebih banyak mengasah ketajaman perasaan dan pola pikir ini. Sesungguhnya terlalu banyak makna proses hidup yang dijalankan tiap harinya sehingga tak jarang sulit dilukiskan sepenuhnya melalui kata-kata.
Ya, bukanlah pemandangan yang jarang saya melihat ekspresi teman-teman atau pun masyarakat yang menggambarkan perasaan yang tengah dirasakan. Tak jarang saya menyaksikan lalu-lalang berbagai macam emosi ini begitu saja, baik yang menyisakan suka maupun duka.
            Akan tetapi, dibalik itu semua setiap harinya selalu ada satu hal yang dapat saya tarik garik lurusnya. Senyuman menghangatkan tanda kesan yang penuh arti. Semangat anak-anak dari awal mengenal kami hingga dalam proses bermain-belajar membuat kami makin teguh untuk meluruskan apa yang masih terkesan bengkok. Disini saya semakin memahami arti mendidik. Sungguh, anak-anak kecil ini mampu menjadi gambaran bagaimana kedepannya hidup ini akan berjalan. Sungguh, semangat baja untuk belajar dan berjalan di garis kejujuran kami tanamkan disini. Melalui senam pemanasan, permainan tradisional dan lirik-lirik lagu yang menyenangkan kami berbagi mengenai maksud menjaga lingkungan sekitar. Betapa keharuan semakin hari kian terpupuk melihat pola pikir dan tingkah laku anak-anak yang menanjak pada tangga positif. Tak bisa dipungkiri, suka duka akan selalu beriringan terjadi. Akan tetapi, bagi saya yang paling penting fokus memaksimalkan hal positif untuk menambah volume positif lainnya sehingga mampu menutupi atau bahkan mengurang hal negatif.
            Keberadaan anak tak akan jauh dari keberadaan sang ibu. Ibu-ibu disini membuat saya seringkali merasa bahwa “hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia” tak hanya berlaku  bagi mereka melainkan bagi saya. Mungkin mereka melihat saya dan teman-teman seperti percikan cahaya yang menyinari harapan-harapan anaknya untuk belajar dan berilmu. Ibu-ibu di Tugu Utara menggandeng erat kami untuk memberikan perubahan di kampungnya sendiri. Keharuan makin dirasakan ketika menyaksikan ibu-ibu disini sudah mulai minimalisasi pura-pura tidak tahu kelakuan membuang sampah sembarangan. Senyum tawa mereka tak kalah bahagianya dengan anak-anak dan KAMI. Masa-masa senyum tawa ini rasanya jauh berlipat ganda dibanding dengan jumlah duka. Sungguh mereka adalah bagian dari orang-orang yang memiliki senyum ini.

            Bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Bersama berbagai duka selalu ada suka. Dan kali ini saya diajarkan untuk merasakan suka yang terpaut jauh mengharukan di Tugu Utara 06/04.

Diam atau Bergerak

Waktu terus berlalu tapi engkau masih disana Hari terus berlalu tapi engkau masih di singgasana Lepaskan singgasana karena engkau perlu ta...